Man ana???

Foto saya
Teluk Kuantan, Riau, Indonesia
Saya adalah "Anak Talang" yang selalu rindu perubahan progresif.....

Selasa, 02 Februari 2010

Yang Datang Pasti Akan Pergi

Apa pun yang kita kumpulkan,
cepat atau lambat, pasti akan pergi.
Harta yang kita simpan; kehormatan yang kita perjuangkan;
dan semua yang diaku sebagai milik sendiri
selalu mencari jalan keluar dari genggaman kita.

Ibaratnya, arus sungai yang rindu akan lautnya.
Sekuat apapun bendungan menghadang,
air akan menemukan celah untuk meneruskan tetesannya.
Atau, angin akan mengangkat mereka ke awan-awan tebal
dan menjatuhkannya ke atas samudera.
Apa pun yang terjadi,
semua itu akan pergi.

Jika toh mereka tak meninggalkan kita,
suatu saat kitalah yang akan meninggalkan mereka.
Kita akan meninggalkan semua itu.
Karenanya, jangan terburu mengaku beruntung atas segunung harta
atau selangit kehormatan yang kita raih.
Di saat semua itu pergi,
tak selalu pantas kita meratapinya sebagai kemalangan.
Maka, tak ada yang lebih baik selain selalu bersiap melepaskan.
Bagi bendungan, tekanan arus air adalah beban berat.
Bagi kita, tumpukan harta tak kalah beratnya.
Maka, bila ia harus pergi,
relakan kepergiannya.
Ini membuat hati jauh lebih lapang dan ringan.

Minggu, 10 Januari 2010

Hanyalah Hari Ini.

Seorang bijak pernah berkata, bahwa ada dua hari dalam hidup
ini yang sama sekali tak perlu anda khawatirkan.

Yang pertama; hari kemarin. Anda tak bisa mengubah apa pun
yang telah terjadi. Anda tak bisa menarik perkataan yang
telah terucapkan. Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan;
dan mengulangi kegembiraan yang anda rasakan kemarin. Biarkan
hari kemarin lewat; lepaskan saja.

Yang kedua: hari esok. Hingga mentari esok hari terbit,
anda tak tahu apa yang akan terjadi. Anda tak bisa melakukan
apa-apa esok hari. Anda tak mungkin sedih atau ceria di esok
hari. Esok hari belum tiba; biarkan saja.

Yang tersisa kini hanyalah hari ini. Pintu masa lalu telah
tertutup; pintu masa depan pun belum tiba. Pusatkan saja diri
anda untuk hari ini. Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal
hari ini bila anda mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan
ketakutan akan esok hari. Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu
dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit. Hiduplah
apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini; hari ini yang
abadi.

Selasa, 17 November 2009

Syair Untuk Sebuah Renungan

Ini ada syair, sepertinya bagus juga buat bahan renungan baik buat yang
sudah menikah atau bagi yang baru akan menjalani kehidupan rumah tangga.
Syair untuk Suami dan Isteri (renungan).
UNTUK SUAMI
(Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Laki-laki)
Pernikahan ataupun perkawinan,
Menyingkap tabir rahasia.
Isteri yang kamu nikahi,
Tidaklah semulia Khadijah,
Tidaklah setaqwa Aisyah,
Pun tidak setabah Fatimah.
Justeru Isteri hanyalah wanita akhir zaman,
Yang punya cita-cita, Menjadi solehah...
Pernikahan ataupun perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama.
Isteri menjadi tanah, Kamu langit penaungnya,
Isteri ladang tanaman, Kamu pemagarnya,
Isteri kiasan ternakan, Kamu gembalanya,
Isteri adalah murid, Kamu mursyidnya,
Isteri bagaikan anak kecil, Kamu tempat bermanjanya,
Saat Isteri menjadi madu, Kamu teguklah sepuasnya,
Seketika Isteri menjadi racun, Kamulah penawar bisanya,
Seandainya Isteri tulang yang bengkok, berhatilah meluruskannya,
Pernikahan ataupun perkawinan,
Menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa,
Untuk belajar meniti sabar dan ridha,
Karena memiliki Isteri yang tak sehebat mana,
Justeru kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Rasulullah,
Pun bukanlah Saidina Ali Karamaullahhuwajah,
Cuma suami akhir zaman,
Yang berusaha menjadi soleh... Amin.

UNTUK ISTRI
(Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Wanita)
Pernikahan ataupun perkawinan,
Membuka tabir rahasia,
Suami yang menikahi kamu,
Tidaklah semulia Muhammad,
Tidaklah setakwa Ibrahim,
Pun tidak setabah Ayub,
Atau pun segagah Musa,
apalagi setampan Yusuf
Justeru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita,
Membangun keturunan yang soleh .......
Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama,
Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
Suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,
Suami bagaikan balita yang nakal, Kamu adalah penuntun kenakalannya,
Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur singasananya,
Seketika Suami menjadi bisa, Kamu lah penawar obatnya,
Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah
memperingatkannya.
Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan takwa,
Untuk belajar meniti sabar dan redha,
Karena memiliki suami yang tak segagah mana,
Justeru Kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Khadijah,
yang begitu sempurna di dalam menjaga
Pun bukanlah Hajar,
yang begitu setia dalam sengsara
Cuma wanita akhir zaman,
Yang berusaha menjadi solehah..... Amin.

Kamis, 29 Oktober 2009

Untaian Pesan

Kalau anda mau cerdas
Belajar janganlah malas

Kalau anda mau berbudi
Berbuat baik dan mawas diri

Kalu anda mau kaya
Teruslah berkarya dan berusaha

Kalau anda mau mujur
Berbuatlah selalu jujur

Kalau anda mau dikenal
Belajar dan berbuat dengan benar

Minggu, 18 Oktober 2009

Keistimewaan Perempuan

Ibunda, Kenapa Engkau Menangis?

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada
ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab,
Ibu adalah seorang wanita, Nak". "Aku tak mengerti" kata si
anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat.
"Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...."

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu
menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?" Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada
alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap
bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan.
"Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?"
Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,

"Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia
dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula,
ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan,
pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya,
walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk
mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam
situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai
perasaannya, melukai hatinya.

Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada
bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah
yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut
olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui
masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab,
bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan
jantung agar tak terkoyak?

Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk
memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik
adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali
pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang
diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling
melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar
dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan
yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah
air mata kehidupan".

Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih
hidup, karena di kakinyalah kita menemukan surga.

Jumat, 16 Oktober 2009

Sebuah Renungan

Dari mana anda datang????

Dari mana anda datang?
Minallah, dari Allah
Akan kemana anda pergi?
Ilallah, menuju Allah.
Bersama siapa anda pergi?
Ma'allah, bersama Allah.
Di jalan apa yang anda tempuh?
Fi sabilillah, di jalan Allah.
Anda sebenarnya milik siapa?
Inna lillah, kami sesungguhnya milik Allah.
Kepada siapa anda kembali?
Ilaihi roji'un, kepada-Nya (Allah) kami kembali.

Kepada siapa anda beriman?
Amantu billah, saya beriman kepada Allah.
Kepada siapa anda berserah diri?
Aslamtu lillah, berserah diri kepada Allah.
Kepada siapa anda beribadah/mengabdi?
A'budullah, saya mengabdi kepada Allah.
Kepada siapa anda mohon perlindungan?
A'udzu billah, saya berlindung kepada Allah
Kepada siapa anda tawakkal?
Tawakaltu'alallah, bertawakal kepada Allah.

Atas nama siapa anda beramal kebajikan?
Bismillah, atas nama Allah.
Kepada siapa anda bersyukur?
Alhamdu lillah, segala puji bagi Allah.
Untuk siapa anda hidup?
Lillah, untuk Allah
Darimana datangnya rahmat dan hidayah?
Min'indillah, dari sisi Allah
Dalam hidup apa yang sebenarnya anda cari?
Mardhatillah, saya mencari ridho Allah

Itulah "sangkan paraning dumadi"
Insan datang dari Allah
Pergi menuju Allah
Hidup bersama Allah
Beramal untuk Allah
Tawakal kepada Allah
Kembali kepada Allah

dari naskah : "Jalan Lurus Menuju Ma'rifatullah"

sangkan paraning dumadi = asal muasal kejadian dalam
tema
:"Dari mana dan hendak kemana manusia"

Senin, 28 September 2009

Mawar Untuk Ibu

Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat
karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang
tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya,
ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan
sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa
dan dijawab oleh gadis kecil, "Saya ingin membeli setangkai
bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang
lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu."

Pria itu tersenyum dan berkata, "Ayo ikut, aku akan
membelikanmu bunga yang kau mau." Kemudian ia membelikan
gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan
karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk
mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu
melonjak gembira, katanya, "Ya tentu saja. Maukah anda
mengantarkan ke tempat ibu saya?"

Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan
gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis
kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang
masih basah.

Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat
sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan
membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang
dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh
250 km menuju rumah ibunya.


jangan tunda Berbuat baiklah kepada orang tua...manfaatkan waktu selagi masih sama2 didunia...